#1 ARSITEKTUR & LINGKUNGAN
Arsitektur & Lingkungan, sebuah kata yang
mungkin sudah tidak asing lagi bagi kita yang tengah bergelut dalam
dunia arsitektur baik yang sudah bekerja dilapangan maupun yang masih
dalam ruang lingkup bangku perkuliahan, kita sebagai orang yang bergelut
dalam bidang arsitektur haruslah paham betapa pentingnya mempedulikan
lingkungan terlebih dahulu sebelum mulai merancang sebuah bangunan di
suatu lingkungan.
Dalam hal pembangunan sangatlah penting untuk memperhatikan aspek-aspek
lingkungan terlebih dahulu karena lingkungan adalah tempat dimana mahluk
hidup dapat hidup sesuai dengan fungsinya dalam ekosistem. Tanpa kita
sadari karya seorang arsitek yang berupa bangunan-bangunan merupakan
penyumbang terbesar kerusakan lingkungan, terlebih lagi di era modern
ini banyak negara berlomba-lomba membangun gedung pencakar langit dengan
mewahnya dan megahnya tanpa mempedulikan aspek-aspek lingkungan
sekitanya seperti air, sinar matahari, angin, dan rumah-rumah warga
sekitar yang kekurangan air dan sinar matahari yang terhalang oleh
gedung-gedung besar.
Seperti yang sudah kita semua ketahui, permasalahan akibat pembangunan
yang tidak mempedulikan lingkungan di kota Jakarta banyak menyebabkan
masalah seperti halnya banjir dan pemukiman kumuh di bantaran sungai,
seolah-olah permasalahan ini menjadi PR bagi pemerintah yang belum
pernah menemui titik terang untuk mengatasinya. Dan juga tidak mungkin
jika pemerintah memaksakan menerapkan sistem seperti yang ada di kota
negara-negara maju seperti kota Tokyo, Jepang.
Selain karena kurangnya anggaran dana dari pemerintah, Juga karena warga
indonesia terutama kota jakarta banyak yg belum sadar akan peduli
lingkungan, tentu saja akan sangat tidak efektif jika seorang arsitek
sudah berpikir keras merancang bangunan yang mempedulikan lingkungan
tetapi justru warga sekitar atau penghuni bangunan tidak peduli dengan
lingkungan ,sebagai contoh kecil seperti membuang sampah secara
sembarangan, mungkin itu terdengar seperti hal sepele tetapi memiliki
dampak buruk bagi lingkungan yang cukup besar.
Untuk mengatasi masalah yang ada di kota Jakarta menurut saya
pribadi setidaknya pemerintah Indonesia haruslah meniru sikap pemerintah
Jepang yang sangat mempedulikan lingkungannya. Tidak kalah penting juga
harus munculnya kesadaran dari warga sekitar dan juga ketika membangun
tidak menutup seluruh daerah resapan air dengan plester seperti trotoar
untuk pejalan kaki, tidak perlu menggunakan plester cukup menggunakan
bata konblock sehingga air dapat meresap ke tanah.
Sebenarnya banyak arsitek yang sadar dan paham akan
pentingnya aspek-aspek lingkungan terutama di kota Jakarta itu sendiri
tetapi mungkin hanya sedikit yang menerapkannya atau mungkin tanpa sadar
dan ketidak sengajaan bangunan yang dirancang oleh seorang arsitek
memberikan dampak buruk bagi lingkungan sekitarnya baik secara langsung
ataupun tidak langsung.
Tentu saja untuk kedepannya akan menjadi tugas kita sebagai generasi
penerus bangsa dan para calon arsitek muda untuk memperbaiki keadaan
kota Jakarta atau bahkan memajukan pembangunan di Indonesia dengan
wawasan lingkungan.
#2 RESPON ARSITEKTUR & LINGKUNGAN
Bangunan sudah menjadi hal yang sangat vital bagi
manusia, kebutuhan manusia akan bangunan pun saat ini seperti tiada
habisnya, banyaknya lahan-lahan kosong yang di bangun perumahan dan
setiap negara berlomba-lomba untuk membuat bangunan tertinggi.
Kebutuhan manusia akan bangunan sebagai tempat
tinggal ataupun sebagai simbol di suatu negara sangatlah penting untuk
memperhitungkan aspek keselarasan dengan alam maupun kepentingan manusia
dengan penghuninya.
pembangunan menurut kebutuhan manusia dinamakan pembangunan secara biologis atau arsitektur biologis.
Pembangunan dengan memperhitungkan aspek keselarasan dengan alam
maupun kepentingan penghuninya sangatlah penting karena dengan membangun
bangunan yg memperhitungkan aspek arsitektur biologis dapat menghemat
penggunaan energi pada bangunan, seperti kita bisa meminimalisir
penggunaan AC (Air Conditioner) dan juga lampu pada bangunan dengan
memanfaatkan potensi alam yg ada pada lingkungan bangunan, selain itupun
dengan memperhitungkan keselarasan dengan alam bangunan yang dibangun
menjadi lebih kokoh terhadap pengaruh iklim yang ada dan dapat merespon
gejala alam dari lingkungan sekitarnya, dan juga tentu saja penghuni
dari bangunan dapat merasa lebih nyaman tinggal didalam bangunan itu,
dan juga bangunan menjadi bangunan yang menyandang predikat ramah
lingkungan.
Di zaman yang serba maju ini tentu kita haruslah berpikir
lebih rasional dan merespon keadaan lingkungan seefektif mungkin pada
bangunan agar bangunan yang dibangun karena kebutuhan manusia tidak
merusak lingkungan tetapi justru memanfaatkan potensi alam yg ada,
dengan begitu setidaknya manusia dan alam akan memiliki hubungan yg
erat, karena manusia sangatlah membutuhkan alam sebagai tempat tinggal
ataupun bertahan hidup, maka apa jadinya jika bangunan yg dibangun untuk
memenuhi kebutuhan manusia malah merusak alam atau melawan kehendak
alam, itu akan merugikan mereka sendiri karena telah merusak lingkungan
tempat mereka tinggal.
#3 RANGKUMAN BUKU ARSITEKTUR & LINGKUNGAN
1.1 ARSITEKTUR BIOLOGIS
Arsitektur biologis adalah suatu ilmu penghubung antara manusia dan
lingkungannya secara keseluruhan. kata biologis itu sendiri berasal dari
kata bios yang berarti kehidupan / alam tumbuh-tumbuhan dan logos yang
berarti dunia teratur, dunia berakal.
Rumah tempat tinggal bisa dianggap sebagai suatu susunan organis yg berfungsi sebagai kulit manusia.
1.2 LINGKUNGAN.MANUSIA
Setiap pembaruan merupakan suatu pembaruan atau perubahan
lingkungan yang berarti perhatian atas arsitekturenya dan atas kualitas
kehidupan manusia. Kualitas masa lalu hingga sekarang cenderung terus
menurun.
1.3 PENGARUH ENERGI
Salah satu cara untuk mencapai keseimbangan dengan alam ialah
memberikan perhatiaan lebih pada daya energi yg digunakan, kita
membutuhkan perhitungan energi dengan memperhatikan, misalnya:
· Energi untuk eksploitasi bahan bangunan
· Energi untuk persiapan bahan bangunan
· Energi untuk transportasi bahan bangunan
· Energi untuk mendirikan gedung
· Energi untuk memelihara gedung
· Energi untuk perubahan penggunaan gedung
· Energi untuk membongkar gedung tersebut dsb.
1.4 TEKNOLOGI PROTEKTIF (PERLINDUNGAN)
Menurut Prof.H.R.Hugi pada makalahnya Angepesste Technologie fur Entwicklungslander keseimbangan meliputi :
· Seimbang dengan alam
· Seimbang dengan manusia
· Seimbang dengan lingkkungan
2. PENGERTIAN WAKTU
2.1 SEJARAH
pembangunan dan kebudayaan merupakan bentuk sejarah manusia.
Terutama pada masa yang lalu pembangunan rumah kediaman berarti tanda
kehidupan, berarti aktivitas oleh masyarakat setempat.
2.2 Waktu sekarang
Waktu sekarang merupakan peralihan antara sejarah masa lampau dan masa
depan. Cara membangun sudah berubah. Pada masa lalu atap merupakan
perlindungan dan tujuan utama rumah kediaman, sedangkan pada masa
sekarang sudah jauh berbeda karena penghuni bermukim lebih padat. Kini
dibutuhkan keamanan untuk rahasia pribadi, sehingga dinding-dinding
dibangun.
2.3
Masa depan
suatu masa yang akan datang, atau belum datang saat ini.
PENGERTIAN RUANG
A.
Alam
Manusia dan
kebudayaannya serta peradaban yang dihasilkan terletak pada alam disekitarnya
dengan hukum alamnya. Dari keseimbangan dengan lingkungan sosial-kebudayaan
tertentu, kemudian dibuat faktor-faktor lingkungan, serta pembangunan rumah,
pondok dan sebagainya. Kualitas perumahan akan meningkat dengan keselarasannya
dengan alam sekitar, ketentuan ini akan menjadi dasar ekologi manusia.
B.
Manusia
Pengertian ruang
sejauh berhubungan dengan manusia merupakan sesuatu yang sangat sulit
dijabarkan, sama sulitnya dengan pengertian ruang dalam kaitannya dengan
masyarakat.
C.
Masyarakat
Selamanya manusia
bekerja dan melakukan sesuatu yang berimbang dengan kemanusiaan dan alam.
Kesulitan selalu terdapat pada manusia dan citra dirinya, yakni hubungannya
sebagai individu dengan masyarakat, kebudayaan dengan agama. Sebagai
keterangan, misalnya kita dapat mengerti bahwa kelaparan yang terdapat
diseluruh dunia dapat diubah dengan makanan.
D.
Bangunan
PENGERTIAN UKURAN
A.
Perbandingan arsitektur alam dan
teknik
Arsitektur masa
depan harus lebih efisien dengan menggunakan energi yang jauhlebih sedikit.
Arsitektur seharusnya lebih biologik.
B.
Peradaban (sivilisasi) dan
kebudayaan
PENGERTIAN FUNGSI
Fungsi menentukan
arti. Perlindungan terhadap kehidupan manusia ialah tujuan pembangunan. Fungsi
melindungi tidak boleh dicampur dengan fungsionalisme sebagai gaya arsitektur.
A.
Situasai dan analisa site
Analisa site sebagai
dasar perencanaan tidak mencukupi lagi untuk perencanaan kulit manusia ketiga
jika hanya arsitek saja yang menentukan letak site tersebut.
B.
Ruang dan iklim
Bangunan dan
konstruksinya dibutuhkan manusia antara lain untuk menghdapi pengaruh iklim.
C.
Energi dan bahan bangunan
D.
Cara membangun dan konstruksi
bangunan
a)
Bagian bangunan utama
b)
Bagian bangunan yang bersifat
pelengkap
E.
Ruang dan bentuk
J. A.
Scheiderfrankan seorang ahli filsafat penulis buku Geist und form dengan nama
samaran Bo Yin Ra mengemukakan tentang arti bentuk sebagai faktor teratur pada
jiwa manusia :
“ lingkungan kita harus memperlihatkan bentuk yang kita rasakan sebagai murni
dan benar! Jangan kita lupa, bahwa semua lingkungan kita mempengaruhi kita
kembali dan membentuk kita! “
PENGERTIAN LINGKUNGAN
a.
Lingkungan alam
Sifat, cara
pemilihan dan pengelolaan atas tanah serta bangunan, baik oleh pemerintah
maupun masyarakat, ikut menjadi faktor penentu dalam pembangunan pemukiman
maaupun kelangsungan kehidupan manusia sehari-hari.
b.
Lingkungan sekitar (Lingkungan
buatan)
Tuntutan tersebut
harus dijawab dengan menggalakkan penggunaan bahan bangunan setempat seperti
kayu, bambu, batu kali, tanah liat, tras, pasir, rumbia dan mengurangi
penggunaan bahan bangunan seperti semen, asbes semen, plastik, baja, kaca,
aluminium dan sebagainya yang penyediannya sangat memboroskan energi dan sumber
alam.
c.
Lingkungan sosial dan ekonomi
BAHAN BANGUNAN BIOLOGIS
d.
Bahan bangunan yang dapat
dibudidayakan lagi
a)
Kayu
b)
Bambu
c)
Rumbia, alang-alang dan ijuk
e.
Bahan bangunan alam yang dapat
digunakan lagi
a)
Tanah, tanah liat dan lempung
b)
Batu alam
f.
Bahan bangunan alam yang dapat
disediakan oleh industrial
a)
Batu buatan yang dibakar (batu
merah)
b)
Genting flam dan genting pres
c)
Batu buatan yang tidak dibakar
(batako)
PERENCANAAN ARSITEKTUR BIOLOGIS
a.
Tujuan pembangunan biologis
Penyelidikan
arsitektur dan pembangunan mempunyai tujuan yang berbeda satu sama lain. Dalam
penyelidikan itu biasanya bagian teknik dan ekonomi lebih diutamakan, sekalipun
teknik tersebut belum pasti menjadi teknik yang terbaik. Pada umumnya dalam
hal-hal dasar dan standar, terutama dibidang bahan, bangunan biologik masih
mengalami cacat. Sebenarnya, pada semua penyelidikan seharusnya
diperhatikan
juga soal psikologi dan ekologi secara indisipliner.
b.
Bentuk bangunan dan bahan bangunan
Bahan bangunan dan
konstruksi bangunan adalah dua unsur pembentuk bangunan. Akan tetapi bentuk
bangunanpun ditentukan oleh fungsinya, menurut kebutuhan dasar penghuninya dan
cara membangunnya, yaitu cara membatasi ruang tersebut secara konstruktif
dengan lantai, dinding, susunan atap dan sebagainya.
c.
Sistem perencanaan
Perencanaan
arsitektur biologik dengan bahan bangunan biologik merupakan suatu lintas ilmu
yang melibatkan antara lain insinyur, ahli bangunan dan pemberi tugas
(bouwheer). Kerja sama yang baik antara mereka yang terlibat akan memungkinkan
optimalisasi dalam perencanaan.
d.
Arsitektur tradisional
Istilah arsitektur
tradisional dapat diartikan sebagai suatu arsitektur yang diciptakan/dilakukan
dengan cara yang senantiasa sama sejak beberapa generasi. Dengan demikian,
arsitektur tradisional memperlihatkan hubungan manusia dengan sejarahnya dalam
bidang bangunan dan permukiman.
a.
Menuju arsitektur biologis
a)
Pendahuluan
b)
Rudolf Doernach
c)
Peter Schmid
b.
prospek mendatang
#4 RANGKUMAN DASAR BUKU ARSITEKTUR EKOLOGI
A.
PENGANTAR EKOLOGI DASAR DAN FISIKA BANGUNAN
1.1. Dasar-dasar ekologi
Ekologi adalah
ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan
lingkungannya. Ekologi itu sendiri pertama kali diperkenalkan oleh Ernst
Haeckel, ahli ilmu hewan pada tahun 1869 sebagai ilmu interaksi antara segala
jenis mahluk hidup dan lingkungannya. Sedangkan menurut arti kata dalam bahasa
yunani ekologi berarti ilmu tentang rumah atau tempat tinggal mahluk hidup.
1.2. Aliran
dalam ekosistem
Organisme-organisme dan kemampuannya
tergantung pada aliran energi dan zat-zat yang dapat dimanfaatkan sebagai alat
bantu untuk memproduksi materi organik.
1.3. Iklim dan
ruang
Iklim merupakan susunan keadaan
atmosferis dan cuaca dalam jangka waktu dan daerah tertentu. Iklim pada tempat
tertentu dapat diterangkan berdasarkan urutan terjadinya keadaan-keadaan
tersebut.
1.4. Cahaya
Cahaya merupakan bagian yang sangat kecil dari seluruh aneka warna
elktromagnetic, Cahaya adalah bagian penting bagi
kehidupan manusia, terutama untuk mengenali lingkungan dan menjalankan
aktivitasnya.
.5. Bunyi
Indra pendengaran adalah telinga
manusia. Daun telinga berfungsi sebagai corong untuk mengumpulkan getaran
bunyi.
B. PEMBANGUNAN
DAN KERUSAKAN ALAM
2.1. Ekologi dan
arsitektur ekologis
Pembangunan rumah atau tempat
tinggal sebagai kebutuhan kehidupan manusia dalam hubungan timbal-balik dengan
lingkungan alamnya dinamakan arsitektur ekologis atau eko-arsitektur.
2.2. Unsur
pokok eko-arsitektur dan pengaruh pencemaran pada kesehatan manusia
Bagi banyak manusia tradisional
segala materi terdiri dari empat unsur yaitu udara (angin), air (banyu),
tanah/bumi (lemah), dan api/energi (geni). Walaupun menurut pengetahuan masa
kini, hal tersebut jauh lebih rumit. Empat unsur tersebut dapat dianggap
sebagai awal pembicaraan hubungan timbal-balik antara gedung dan lingkungan.
2.3. Kualitas
arsitektur dan tugas sang arsitek
Arsitektur ekologis sebenarnya lebih
indah, lebih tepat guna daripada pembangunan biasa saja, yang menonjol adalah
kualitas arsitektur yang tinggi. Kualitas biasanya sulit diukur dan ditentukan,
terlebih lagi dari bidang arsitektur. Dimana garis batas antara arsitektur yang
bermutu tinggi (berkualitas) dan arsitektur yang biasa saja.
C. JEJAK
EKOLOGIS
3.1. Pengertian
jejak ekologis dan sekitarnya
Setiap makhluk, manusia, binatang
atau tumbuhan,merindukan kehidupan. Akan tetapi, tidak ada makhluk yang mampu
memuaskan nafsu kehidupannya tanpa membatasi kualitas kehidupan makhluk yang
lain.
3.2. Jejak
ekologis dan pengaruh atas pembangunan
Tumbuhan sebagai makhluk tetap
berada di tempat pengolahan sampah dalam rangka kerja sama dengan organisme
perombak sehingga lingkungan hidupnya tetap terjaga.
3.3. Alam sebagai
pola perencanaan
Sstruktur-struktur alam selalu terbentuk sebagai peredaran alam rumah
adalah buatan manusia walaupun demikian menurut paham orang jawa rumah
dianggap memiliki wahyu, berarti rumsh jugs jsdi orgsnisme alam.
D. MEMBANGUN
UNTUK MENGHUNI
4.1. Hubungan
antara kegiatan manusia dan ketergantungan pada tempat
Secara garis besar ini memperhatikan
pembangunan dengan sendirinya maupun arsitektur yang berarti fungsi, bentuk,
proporsi, teknik, dan sebagainya bahkansbagainya mengutamakan penentuan tempat
yang bertuah, penanaman bangunan di dalam tanah, hubungan-hubungan yang
sungguh-sungguh di antara bangunan buatan dan dunia alam yang menyumbangkan
segala kehidupan dalam agama hindu.
4.2. Membangun
sebagai organisasi fungsi
Kehidupan pada umumya terjadi di
dalam ruang yang dibangun oleh manusia. Istilah ruang (space) tidak hanya
meliputi ruang dalam, tetapi juga ruang luar, misalnya jalan yang dibentuk oleh
dinding, rumah, atau tanaman sekeliling. Kualitas kenyamanan, sifat, dan bentuk
ruang juga mempengaruhi jiwa penghuni.
4.3. Cipta rasa
dan karsa
Setelah mata manusia sejak
berabad-abad merupakan organ pancaindra yang utama , pembatasan yang
diakibatkan kenyataan tersebut makin jelas. Pada masa kini timbul keinginan
untuk memanfaatkan daya tanggap dengan semua pancaindra.
4.4. Menghuni dan
partisipasi penghuni
Proses menghuni adalah proses
belajar, memahami lingkungan, ruang pranata sosial di bentuk pertama kali dalam
lingkungan terkecil, yaitu keluarga.
E. MEMBANGUN
SECARA EKOLOGIS (basic eco-design standard)
5.1. Kawasan penghijauan
diantara kawasan pembangunan
Perkembangan kawasan bangunan yang
liar dan tidak teratur akan menghancurkan kehidupan alam dan menciptakan kota
yang layak dihuni.
5.2. Tapak
bangunan bebas gangguan geobiologis dan radiasi elektromagnetik buatan yang
minimal
Selain komunikasi antara manusia dan
ibu bumi, radiasi lingkungan, irama aktivitas matahari atau cuaca, memengaruhi
kehidupan secara positif karena terjadi secara terus-menerus.
5.3. Rantai bahan
dan bahan bangunan ekologis
5.3.1 Pembangunan dan kesehatan
5.3.2 Bahan bangunan ekologis
5.3.3 Peredaran bahan dan
rantai bahan
5.4. Ventilasi
alam dalam gedung
5.4.1 Penyegaran udara secara
pasif
5.4.2 Penyegaran udara secara
aktif
5.5. Kelembapan
sebagai ancaman konstruksi dan kesehatan
5.5.1 Lapisan permukaan
dinding/langit yang mampu mengalirkan uap air
5.5.2 Kelembapan tanah dan
konstruksi bangunan yang kering
5.5.3 Kesinambungan pada
struktur dan konstruksi
5.6.
Kesinambungan pada struktur
Hubungan antara masa pakai bahan
bangunan dan struktur bangunan mempengaruhi pilihan struktur dan penggunaan
bahan bangunan.
5.7.
Bentuk/proporsi ruang
5.7.1 Penentuan bentuk
Di bidang arsitektur, ukuran biasanya
berhubungan dengan hunian manusia, tetapi karena ukuran gedung secara
metafistis dapat disamakan dengan mikrokosmos yang melambang makrokosmos
mengandung cirri fisis maupun metafisis.
5.7.2 Arsitektur harmonikal
Gagasam tentang kosmos yang harmonikal
dan kesamaan di antara ilmu fisika dan tanggapan di bidang music tampil ke
depan pada teori kuantum.
5.8. Pembangunan
berkelanjutan (ekologis)
Setiap konstruksi bangunan yang
didirikan oleh manusia dari bahan bangunan apapun, sesudah selesai akan menjadi
tua, lemah, dan dikemudian hari mulai runtuh.
5.9. Bangunan
bebas hambatan dan mobilitas
Dari segi sosial maupun ekonomi, bangunan seharusnya bebas hambatan, bangunan dapat di manfaatkan oleh semua orang.
F. MEMBANGUN
KEMBALI DAN RESIKLING
6.1. Membangun
kembali dan mengganti kerugian
Membangun berarti membongkar dengan seksama atau memperbaiki kesalahan
yang telah dibangun shingga dosa dosa arsitek masa kini dapat
termaafkan.
6.2. Sampah asal
dari kegiatan pembangunan dan susunannya
Penumpukan sampah secara liar dapat mengancam
lingkungan dengan kebakaran sampah yang tidak terkontrol, merupakan
sumber racun dan penyakit.
6.3. Pengolahan
sampah
Pentingnya sistem pengolahan sampah dapat disamakan dengan pentingnya sistem air bersih dan juga limbah.
#5 GIANT SEA WALL
Proyek tanggul raksasa yang lebih dikenal dengan nama Giant
Sea Wall akan membentang di Teluk Jakarta sepanjang 30 km. Proyek
pemerintah DKI Jakarta yang bekerja sama dengan pemerintah Belanda
tersebut akan berada di lepas pantai sejauh 6-8 km dari garis pantai.
Tujuan dari proyek tanggul raksasa ini yaitu untuk mengurangi banjir,
menyediakan air tawar bersih, dan membangun pesisir. Nyatanya, proyek
tersebut diprediksikan akan menimbulkan masalah.
Opini tersebut
dilontarkan oleh Muslim Muin, Ph.D. (Ketua Kelompok Keahlian Teknik
Kelautan ITB). Menurutnya, proyek yang menelan
dana lebih dari 280 triliun rupiah tersebut bukan merupakan solusi
permasalahan banjir dan penurunan tanah yang terjadi di Jakarta. Jika
diteliti lebih lanjut, proyek tersebut justru akan membawa kerugian.
Menurutnya,
Jakarta tak perlu bangun Giant Sea Wall.
Giant
Sea Wall akan menyebabkan kecepatan air sungai berkurang akibat jauhnya
muka air (titik terendah untuk mengalirkan air). Seperti yang kita
ketahui debit sungai adalah perkalian antara kecepatan air dan luas
penampang sungai, sehingga jika kecepatan air menurun maka mau tak mau
luas penampang suang harus diperbesar. Padahal, terdapat tiga belas
sungai sungai yang bermuara di Teluk Jakarta sehingga bisa diperkirakan
bahwa debit airnya tidak sedikit. Menurut Muslim, masalah ini hampir
tidak mungkin diselesaikan dengan menambah lebar sungai (karena
pemukiman dan sebagainya).
Biaya
operasional juga dipertanyakan dalam proses pengaliran air sungai untuk
menurunkan muka air.
Bukan Solusi
Pembangunan
Giant Sea Wall disebutkan sebagai solusi dari ancaman rob yang akan
melanda Jakarta. "Kanal Banjir Barat (KBB) dan Kanal Banjir Timur (KBT)
tidak cukup untuk melindungi ibu kota dari bencana banjir, diperlukan
Giant Sea Wall agar pengamanannya semakin lengkap, terutama dalam
mengatasi banjir rob," ungkap Joko Widodo, Gubernur DKI Jakarta, pada
Senin (11/02/13) via antaranews.com.
Menurut Muslim,
rob adalah fenoma alam biasa dimana muka air laut tinggi. Rob akan
menjadi banjir rob karena terjadinya subsidence (penurunan tanah). Menurutnya tak perlu tanggul raksasa, cukup dengan membangun struktur yang kurang sensitif terhadap subsidence
pada daerah yang mengalami penurunan tanah maka permasalahan ini dapat
diselesaikan.
Jika
Giant Sea Wall dibangun, mau tak mau dua pelabuhan ikan Nusantara akan
ditutup, puluhan bahkan ratusan ribu warga nelayan harus dipindahkan.
Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Muara Karang juga harus ditutup
karena aliran air pendingin tidak lagi tersedia. Kalaupun dipertahankan,
biaya operasinya sangat besar karena memerlukan pompa yang berjalan
terus. Diperlukan dana sebesar 30 triliun rupiah untuk membangun
pembangkit listrik yang setara dengan PLTU Muara Karang.
Giant
Sea Wall sendiri juga diperkirakan dapat memperparah kondisi lingkungan
Teluk Jakarta karena akan memerangkap polutan di dalam daerahnya. Hal
ini disebabkan karena bukaan yang rencananya akan dibangun tidak akan
cukup untuk membentuk sirkulasi air. Untuk mengatasi hal ini, rencananya
akan dilakukan proyek pembersihan air sebelum memasuki Teluk Jakarta.
Menurut Muslim, pembersihan air semacam ini bisa menelan biaya sebesar 5
triliun rupiah setiap tahun dan memicu kemunculan proyek-proyek lain.
Proyek
ini agaknya perlu dikaji ulang. Menurut Muslim, Giant Sea Wall bukanlah
solusi yang tepat. Muslim mengusulkan alternatif lain yaitu River Dike.
River Dike versi Muslim yaitu pembuatan tanggul sepanjang pantai pada
daerah yang mengalami penurunan tanah atau subsidence dan mempertinggi
tanggul sungai.