Kamis, 12 November 2015

#4 RANGKUMAN DASAR BUKU ARSITEKTUR EKOLOGI



A. PENGANTAR EKOLOGI DASAR DAN FISIKA BANGUNAN





1.1.    Dasar-dasar ekologi

Ekologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan lingkungannya. Ekologi itu sendiri pertama kali diperkenalkan oleh Ernst Haeckel, ahli ilmu hewan pada tahun 1869 sebagai ilmu interaksi antara segala jenis mahluk hidup dan lingkungannya. Sedangkan menurut arti kata dalam bahasa yunani ekologi berarti ilmu tentang rumah atau tempat tinggal mahluk hidup.

1.2.      Aliran dalam ekosistem

 Organisme-organisme dan kemampuannya tergantung pada aliran energi dan zat-zat yang dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk memproduksi materi organik. Energi surya terutama dibutuhkan untuk menjalankan peredaran materi tersebut karena elemen-elemen vital dan alat bantu yang dapat digunakan oleh organisme-organisme pada ekologi sistem alam tidak tersebar merata. Aliran ini disebut daur, siklus, atau peredaran.

1.3.       Iklim dan ruang

              Iklim merupakan susunan keadaan atmosferis dan cuaca dalam jangka waktu dan daerah tertentu. Iklim pada tempat tertentu dapat diterangkan berdasarkan urutan terjadinya keadaan-keadaan tersebut.  Sesuai dengan titik pandangan, maka bobot masing-masing keadaan berbeda dan iklim biasanya digolongkan atas 2 jenis iklim yaitu ikim makro dan iklim mikro.

1.4.       Cahaya

              Cahaya merupakan bagian yang sangat kecil dari seluruh aneka warna elktromagnetic, Cahaya adalah bagian penting bagi kehidupan manusia, terutama untuk mengenali lingkungan dan menjalankan aktivitasnya. Tanpa cahaya dunia gelap, menakutkan, tidak ada yang bisa dikenali, dan tidak ada keindahan visual. Dengan cahaya, manusia dapat beraktivitas dengan nyaman dan menikmati kesenian, lingkungan alam dan buatan.

1.5.       Bunyi

                Indra pendengaran adalah telinga manusia. Daun telinga berfungsi sebagai corong untuk mengumpulkan getaran bunyi. Getaran bunyi tersebut kemudian masuk kedalam lubang telinga. Bila getaran bunyi mencapai gendang telinga, maka gendang telinga akan ikut bergetar. Getaran gendang telinga menggetarkan tulang-tulang pendengaran. Selanjutnya tingkap jorong dan rumah siput (koklea) ikut bergetar, demikian pula cairan limfa di dalam rumah siput. Getaran cairan limfa merangsang ujung-ujung saraf yang menyampaikan rangsangan bunyi tersebut ke otak.



B.      PEMBANGUNAN DAN KERUSAKAN ALAM


2.1.       Ekologi dan arsitektur ekologis

                   Pembangunan rumah atau tempat tinggal sebagai kebutuhan kehidupan manusia dalam hubungan timbal-balik dengan lingkungan alamnya dinamakan arsitektur ekologis atau eko-arsitektur.

2.2.       Unsur  pokok eko-arsitektur dan pengaruh pencemaran pada kesehatan manusia

                   Bagi banyak manusia tradisional segala materi terdiri dari empat unsur yaitu udara (angin), air (banyu), tanah/bumi (lemah), dan api/energi (geni). Walaupun menurut pengetahuan masa kini, hal tersebut jauh lebih rumit. Empat unsur tersebut dapat dianggap sebagai awal pembicaraan hubungan timbal-balik antara gedung dan lingkungan.

2.3.       Kualitas arsitektur dan tugas sang arsitek

              Arsitektur ekologis sebenarnya lebih indah, lebih tepat guna daripada pembangunan biasa saja, yang menonjol adalah kualitas arsitektur yang tinggi. Kualitas biasanya sulit diukur dan ditentukan, terlebih lagi dari bidang arsitektur. Dimana garis batas antara arsitektur yang bermutu tinggi (berkualitas) dan arsitektur yang biasa saja.




C.      JEJAK EKOLOGIS



3.1.       Pengertian jejak ekologis dan sekitarnya

                   Setiap makhluk, manusia, binatang atau tumbuhan,merindukan kehidupan. Akan tetapi, tidak ada makhluk yang mampu memuaskan nafsu kehidupannya tanpa membatasi kualitas kehidupan makhluk yang lain. Hal ini berlaku terutama bagi manusia dengan nafsu atas kesejahteraan social, kenikmatan, dan keuntungan material yang tidak dapat terpenuhi.
Dalam hal ini diadakan dua percobaan untuk menyeimbangkan ketidakseimbangan tersebut, yaitu kode etik lingungan dan jejak ekologis (ecological footprint).

3.2.       Jejak ekologis dan pengaruh atas pembangunan

                  Tumbuhan sebagai makhluk tetap berada di tempat pengolahan sampah dalam rangka kerja sama dengan organisme perombak sehingga lingkungan hidupnya tetap terjaga. Lain hakya dengan manusia dengan berpindah-pindah tempat, misalnya manusia. Ketidakperhatian pada rantai bahan sebagai peredaran alam mengakibatkan penyakit menular dan merusak lingkungan alam sekitar.

3.3.       Alam sebagai pola perencanaan
             
                   Sstruktur-struktur alam selalu terbentuk sebagai peredaran alam rumah adalah buatan manusia walaupun demikian menurut paham orang jawa rumah dianggap memiliki wahyu, berarti rumsh jugs jsdi orgsnisme alam. Orgsnisme alam yang mengalami kelahiran,kehidupan,dan kematian dianggap sebagai konsep microkosmos.



D.      MEMBANGUN UNTUK MENGHUNI


4.1.       Hubungan antara kegiatan manusia dan ketergantungan pada tempat

                Secara garis besar ini memperhatikan pembangunan dengan sendirinya maupun arsitektur yang berarti fungsi, bentuk, proporsi, teknik, dan sebagainya bahkansbagainya mengutamakan penentuan tempat yang bertuah, penanaman bangunan di dalam tanah, hubungan-hubungan yang sungguh-sungguh di antara bangunan buatan dan dunia alam yang menyumbangkan segala kehidupan dalam agama hindu.

4.2.       Membangun sebagai organisasi fungsi

             Kehidupan pada umumya terjadi di dalam ruang yang dibangun oleh manusia. Istilah ruang (space) tidak hanya meliputi ruang dalam, tetapi juga ruang luar, misalnya jalan yang dibentuk oleh dinding, rumah, atau tanaman sekeliling. Kualitas kenyamanan, sifat, dan bentuk ruang juga mempengaruhi jiwa penghuni. Sesuai dengan kebutuhan jasmani dan rohani kita, mutu ruang tergantung dari suhu, cahaya, warna, bahan bangunan atau keadaan (tenang atau bising). Ukuran dan suasana ruang harus disesuaikan dengan kebutuhan ruang masing-masing kegiatan.

4.3.       Cipta rasa dan karsa

             Setelah mata manusia sejak berabad-abad merupakan organ pancaindra yang utama , pembatasan yang diakibatkan kenyataan tersebut makin jelas. Pada masa kini timbul keinginan untuk memanfaatkan daya tanggap dengan semua pancaindra.
Perhatian para desain yang mengutamakan fungsi (kegunaan rumah) sering mengbaikan batas-batas kenyamanan serta daya tahan konstruksi dan bahan bangunan. Seperti telah diuraikan di atas juga, semua pancaindra (bukan hanya mata saja) seharusnya terlibat pada waktu manusia menangkap suatu gedung, suatu pandangan yang indah atau lingkungan biasa.

4.4.       Menghuni dan partisipasi penghuni

              Proses menghuni adalah proses belajar, memahami lingkungan, ruang pranata sosial di bentuk pertama kali dalam lingkungan terkecil, yaitu keluarga. Sebagai proses maka menghuni berjalan seiring waktu, menyenangkan dari waktu, atau menjadi suatu tekanan yang harus dihindari karena berbagai tuntutan yang dibutuhkan untuk memahami, mengikat agar semua bagian dalam pelajaran menghuni terwujud dalam hidup di lingkungan keluarga.

E.       MEMBANGUN SECARA EKOLOGIS (basic eco-design standard)



5.1.       Kawasan penghijauan diantara kawasan pembangunan

                 Perkembangan kawasan bangunan yang liar dan tidak teratur akan menghancurkan kehidupan alam dan menciptakan kota yang layak dihuni. Kota dan pedalaman harus berinteraksi seperti jari yang disambungkan satu sama lain. Jika lahan berbukit-bukit, maka dataran dan lembah dimanfaatkan untuk pedesaan dan pertanian, sedangkan lerengan merupakan perkotaan.

5.2.       Tapak bangunan bebas gangguan geobiologis dan radiasi elektromagnetik buatan yang minimal

                 Selain komunikasi antara manusia dan ibu bumi, radiasi lingkungan, irama aktivitas matahari atau cuaca, memengaruhi kehidupan secara positif karena terjadi secara terus-menerus. Jika pengintensifan radiasi berubah menjadi stabil, maka pengaruhnya atas kehidupan bias negative, berarti akan menimbulkan segala penyakit.

5.3.       Rantai bahan dan bahan bangunan ekologis

5.3.1   Pembangunan dan kesehatan
5.3.2   Bahan bangunan ekologis
5.3.3   Peredaran bahan dan rantai bahan

5.4.       Ventilasi alam dalam gedung

5.4.1   Penyegaran udara secara pasif
5.4.2   Penyegaran udara secara aktif

5.5.       Kelembapan sebagai ancaman konstruksi dan kesehatan

5.5.1   Lapisan permukaan dinding/langit yang mampu mengalirkan uap air
5.5.2   Kelembapan tanah dan konstruksi bangunan yang kering
5.5.3   Kesinambungan pada struktur dan konstruksi

5.6.       Kesinambungan pada struktur

                Hubungan antara masa pakai bahan bangunan dan struktur bangunan mempengaruhi pilihan struktur dan penggunaan bahan bangunan. Jika bambu dipilih sebagai bagian strktur, bagian sekunder, bagian finishing, ataupun bagian utilitas, maka harus selalu dipertimbangkan bahwa masa pakai (life span) bambu terbatas jika dibandingkan dengan kayu, baja, atau beton bertulang.
Berdasarkan kenyataan tersebut, pikiran selanjutnya mengikuti prinsip structural, dimana setiap unsur bangunan yang lebih kuat. Makin banyak bagian bangunan yang tahan lama, makin kecil biaya pemeliharaannya.

5.7.       Bentuk/proporsi ruang

5.7.1   Penentuan bentuk
     Di bidang arsitektur, ukuran biasanya berhubungan dengan hunian manusia, tetapi karena ukuran gedung secara metafistis dapat disamakan dengan mikrokosmos yang melambang makrokosmos mengandung cirri fisis maupun metafisis.

5.7.2   Arsitektur harmonikal
      Gagasam tentang kosmos yang harmonikal dan kesamaan di antara ilmu fisika dan tanggapan di bidang music tampil ke depan pada teori kuantum. Pentingnya angka bulat terhadap angka bulat terhadap angka diferensial dan integral dalam dalil ilmu gerak dan analisa spectral menunjukkan kebenaran pengetahuan kuno tersebut.

5.8.       Pembangunan berkelanjutan (ekologis)

           Setiap konstruksi bangunan yang didirikan oleh manusia dari bahan bangunan apapun, sesudah selesai akan menjadi tua, lemah, dan dikemudian hari mulai runtuh. Lain halnya dengan konstruksi alamiah (pembangunan konstruksi oleh alam sendiri)yang pada saat mulai memanfaatkannya akan tumbuh, kemudian bertambah kuat, dan makin tua, makin tahan lama.

5.9.       Bangunan bebas hambatan dan mobilitas

           Dari segi sosial maupun ekonomi, bangunan seharusnya bebas hambatan, bangunan dapat di manfaatkan oleh semua orang.


F.       MEMBANGUN KEMBALI DAN RESIKLING


6.1.       Membangun kembali dan mengganti kerugian

                   Membangun berarti membongkar dengan seksama atau memperbaiki kesalahan yang telah dibangun shingga dosa dosa arsitek masa kini dapat termaafkan.

6.2.       Sampah asal dari kegiatan pembangunan dan susunannya
                  
                    Penumpukan sampah secara liar dapat mengancam lingkungan dengan kebakaran sampah yang tidak terkontrol, merupakan sumber racun dan penyakit.

6.3.       Pengolahan sampah

                     Pentingnya sistem pengolahan sampah dapat disamakan dengan pentingnya sistem air bersih dan juga limbah.

Rabu, 04 November 2015

#3 RANGKUMAN BUKU ARSITEKTUR & LINGKUNGAN

1.1 ARSITEKTUR BIOLOGIS

   Arsitektur biologis adalah suatu ilmu penghubung antara manusia dan lingkungannya secara keseluruhan. kata biologis itu sendiri berasal dari kata bios yang berarti kehidupan / alam tumbuh-tumbuhan dan logos yang berarti dunia teratur, dunia berakal.
Rumah tempat tinggal bisa dianggap sebagai suatu susunan organis yg berfungsi sebagai kulit manusia. Arsitektur biologis memperlihatkan hubungan erat antara manusia dan lingkungan atau alam sekitar.

1.2 LINGKUNGAN.MANUSIA

     Setiap pembaruan merupakan suatu pembaruan atau perubahan lingkungan yang berarti perhatian atas arsitekturenya dan atas kualitas kehidupan manusia. Kualitas masa lalu hingga sekarang cenderung terus menurun. Kehidupan manusia yang seimbang dengan alam akan membutuhkan pengertian baru bagi istilah-istilah yang ada, seperti misalnya pengertian waktu, ruang, ukuran, fungsi, lingkungan dan sebagainya.

1.3 PENGARUH ENERGI

    Salah satu cara untuk mencapai keseimbangan dengan alam ialah memberikan perhatiaan lebih pada daya energi yg digunakan, kita membutuhkan perhitungan energi dengan memperhatikan, misalnya:
·         Energi untuk eksploitasi  bahan bangunan
·         Energi untuk persiapan bahan bangunan
·         Energi untuk transportasi bahan bangunan
·         Energi untuk mendirikan gedung
·         Energi untuk memelihara gedung
·         Energi untuk perubahan penggunaan gedung
·         Energi untuk membongkar gedung tersebut dsb.

1.4 TEKNOLOGI PROTEKTIF (PERLINDUNGAN)

   Menurut Prof.H.R.Hugi pada makalahnya Angepesste Technologie fur Entwicklungslander keseimbangan meliputi :
·         Seimbang dengan alam
·         Seimbang dengan manusia
·         Seimbang dengan lingkkungan




2. PENGERTIAN WAKTU

2.1   SEJARAH

    pembangunan dan kebudayaan merupakan bentuk sejarah manusia. Terutama pada masa yang lalu pembangunan rumah kediaman berarti tanda kehidupan, berarti aktivitas oleh masyarakat setempat. Kehidupan ditentukan oleh agama, kebudayaan dan masyarakat setempat.

2.2   Waktu sekarang
 
 Waktu sekarang merupakan peralihan antara sejarah masa lampau dan masa depan. Cara membangun sudah berubah. Pada masa lalu atap merupakan perlindungan dan tujuan utama rumah kediaman, sedangkan pada masa sekarang sudah jauh berbeda karena penghuni bermukim lebih padat. Kini dibutuhkan keamanan untuk rahasia pribadi, sehingga dinding-dinding dibangun. Kini orang membutuhkan kesenangan hidup dengan fasilitas aliran listrik, membutuhkan air sehat, lingkungan sehat dengan drainase dan sebagainya. Penghuni tidak dapat membangun rumahnya lagi, karena didahului oleh teknologi dan pengkhususan tukang dan ahli.


2.3  Masa depan 
suatu masa yang akan datang, atau belum datang saat ini.



PENGERTIAN RUANG

A.      Alam

       Manusia dan kebudayaannya serta peradaban yang dihasilkan terletak pada alam disekitarnya dengan hukum alamnya. Dari keseimbangan dengan lingkungan sosial-kebudayaan tertentu, kemudian dibuat faktor-faktor lingkungan, serta pembangunan rumah, pondok dan sebagainya. Kualitas perumahan akan meningkat dengan keselarasannya dengan alam sekitar, ketentuan ini akan menjadi dasar ekologi manusia.

B.      Manusia

        Pengertian ruang sejauh berhubungan dengan manusia merupakan sesuatu yang sangat sulit dijabarkan, sama sulitnya dengan pengertian ruang dalam kaitannya dengan masyarakat.

C.      Masyarakat

         Selamanya manusia bekerja dan melakukan sesuatu yang berimbang dengan kemanusiaan dan alam. Kesulitan selalu terdapat pada manusia dan citra dirinya, yakni hubungannya sebagai individu dengan masyarakat, kebudayaan dengan agama. Sebagai keterangan, misalnya kita dapat mengerti bahwa kelaparan yang terdapat diseluruh dunia dapat diubah dengan makanan. Asal ada makanan, maka kelaparan tidak akan ada. Di bidang perumahan, pembangunan dan pemukiman, cara penyelesaian di atas tidak akan berjalan, justru karena perbedaan pengertian pengertian yang begitu beragam di daerah atau negara masing-masing.

D.      Bangunan


PENGERTIAN UKURAN

A.      Perbandingan arsitektur alam dan teknik
Arsitektur masa depan harus lebih efisien dengan menggunakan energi yang jauhlebih sedikit. Arsitektur seharusnya lebih biologik.
B.      Peradaban (sivilisasi) dan kebudayaan

PENGERTIAN FUNGSI

      Fungsi menentukan arti. Perlindungan terhadap kehidupan manusia ialah tujuan pembangunan. Fungsi melindungi tidak boleh dicampur dengan fungsionalisme sebagai gaya arsitektur. Pengertian fungsi tentunya jauh lebih luas. Pada alam, semuanya bersifat fungsional, semua mempunyai fungsi, dan jikalau arsitektur biologis dapat diterapkan sebagai semacam arsitektur alam maka semuanya juga berfungsi.

A.      Situasai dan analisa site
Analisa site sebagai dasar perencanaan tidak mencukupi lagi untuk perencanaan kulit manusia ketiga jika hanya arsitek saja yang menentukan letak site tersebut. Ia membutuhkan bantuan ahli-ahli lain sehingga penilaian atas site bersifat menyeluruh.

B.      Ruang dan iklim
Bangunan dan konstruksinya dibutuhkan manusia antara lain untuk menghdapi pengaruh iklim. Faktor penting untuk membangun perlindungan terhadap cuaca dan iklim tersebut ialah penyinaran, suhu, kelembaban udara, ventilasi dan sebagainya.

C.      Energi dan bahan bangunan

D.      Cara membangun dan konstruksi bangunan
a)      Bagian bangunan utama
b)      Bagian bangunan yang bersifat pelengkap

a.       Hubungan dan sambungan
Membangun tempat tinggal selalu merupakan usaha merangkai, menyambung, menghubungkan bahan, ruang dan sebagainya. Dengan kata lain sambungan biasanya kita artikan sebagai suatu sambungan mekanik seperti misalnya dua balok kayu yang ditakik sehingga hubungannya erat dan kuat. Sambungan-sambungan kimik atau sambungan-sambungan biologik sampai kini masih jarang digunakan, walaupun sambungan bangunan alam misalnya senua biologik atau kimik.

b.      Ukuran dan proporsi

1.       Pengalaman dasar visual
2.       Pytagoras
3.       Pytagoras telah berhasil dengan penyelidikan mengenai selingan selaras/harmonis dalam bidang musik

E.       Ruang dan bentuk
J. A. Scheiderfrankan seorang ahli filsafat penulis buku Geist und form dengan nama samaran Bo Yin Ra mengemukakan tentang arti bentuk sebagai faktor teratur pada jiwa manusia :
“ lingkungan kita harus memperlihatkan bentuk yang kita rasakan sebagai murni dan benar! Jangan kita lupa, bahwa semua lingkungan kita mempengaruhi kita kembali dan membentuk kita! “


PENGERTIAN LINGKUNGAN

a.       Lingkungan alam

Sifat, cara pemilihan dan pengelolaan atas tanah serta bangunan, baik oleh pemerintah maupun masyarakat, ikut menjadi faktor penentu dalam pembangunan pemukiman maaupun kelangsungan kehidupan manusia sehari-hari.

b.      Lingkungan sekitar (Lingkungan buatan)

Tuntutan tersebut harus dijawab dengan menggalakkan penggunaan bahan bangunan setempat seperti kayu, bambu, batu kali, tanah liat, tras, pasir, rumbia dan mengurangi penggunaan bahan bangunan seperti semen, asbes semen, plastik, baja, kaca, aluminium dan sebagainya yang penyediannya sangat memboroskan energi dan sumber alam. Arsitektur biologik bukan lagi seni semacam seni patung saja, melainkan terutama mendasar pada penggunaan bahan-bahan bangunan biologik.

c.       Lingkungan sosial dan ekonomi

BAHAN BANGUNAN BIOLOGIS

d.      Bahan bangunan yang dapat dibudidayakan lagi
a)      Kayu
b)      Bambu
c)       Rumbia, alang-alang dan ijuk
e.      Bahan bangunan alam yang dapat digunakan lagi
a)      Tanah, tanah liat dan lempung
b)      Batu alam
f.        Bahan bangunan alam yang dapat disediakan oleh industrial
a)      Batu buatan yang dibakar (batu merah)
b)      Genting flam dan genting pres
c)       Batu buatan yang tidak dibakar (batako)

PERENCANAAN ARSITEKTUR BIOLOGIS
a.      

 Tujuan pembangunan biologis

Penyelidikan arsitektur dan pembangunan mempunyai tujuan yang berbeda satu sama lain. Dalam penyelidikan itu biasanya bagian teknik dan ekonomi lebih diutamakan, sekalipun teknik tersebut belum pasti menjadi teknik yang terbaik. Pada umumnya dalam hal-hal dasar dan standar, terutama dibidang bahan, bangunan biologik masih mengalami cacat. Sebenarnya, pada semua penyelidikan seharusnya 
diperhatikan juga soal psikologi dan ekologi secara indisipliner.
b.       
Bentuk bangunan dan bahan bangunan

Bahan bangunan dan konstruksi bangunan adalah dua unsur pembentuk bangunan. Akan tetapi bentuk bangunanpun ditentukan oleh fungsinya, menurut kebutuhan dasar penghuninya dan cara membangunnya, yaitu cara membatasi ruang tersebut secara konstruktif dengan lantai, dinding, susunan atap dan sebagainya.
c.      
  Sistem perencanaan

Perencanaan arsitektur biologik dengan bahan bangunan biologik merupakan suatu lintas ilmu yang melibatkan antara lain insinyur, ahli bangunan dan pemberi tugas (bouwheer). Kerja sama yang baik antara mereka yang terlibat akan memungkinkan optimalisasi dalam perencanaan.
d.       
Arsitektur tradisional

Istilah arsitektur tradisional dapat diartikan sebagai suatu arsitektur yang diciptakan/dilakukan dengan cara yang senantiasa sama sejak beberapa generasi. Dengan demikian, arsitektur tradisional memperlihatkan hubungan manusia dengan sejarahnya dalam bidang bangunan dan permukiman.

a.       Menuju arsitektur biologis
a)      Pendahuluan
b)      Rudolf Doernach
c)       Peter Schmid
b.      prospek mendatang

Selasa, 13 Oktober 2015

#2 RESPON ARSITEKTUR & LINGKUNGAN

                 Bangunan sudah menjadi hal yang sangat vital bagi manusia, kebutuhan manusia akan bangunan pun saat ini seperti tiada habisnya, banyaknya lahan-lahan kosong yang di bangun perumahan dan setiap negara berlomba-lomba untuk membuat bangunan tertinggi.

                   Kebutuhan manusia akan bangunan sebagai tempat tinggal ataupun sebagai simbol di suatu negara sangatlah penting untuk memperhitungkan aspek keselarasan dengan alam maupun kepentingan manusia dengan penghuninya.
pembangunan menurut kebutuhan manusia dinamakan pembangunan secara biologis atau arsitektur biologis.

                   Pembangunan dengan memperhitungkan aspek keselarasan dengan alam maupun kepentingan penghuninya sangatlah penting karena dengan membangun bangunan yg memperhitungkan aspek arsitektur biologis dapat menghemat penggunaan energi pada bangunan, seperti kita bisa meminimalisir penggunaan AC (Air Conditioner) dan juga lampu pada bangunan dengan memanfaatkan potensi alam yg ada pada lingkungan bangunan, selain itupun dengan memperhitungkan keselarasan dengan alam bangunan yang dibangun menjadi lebih kokoh terhadap pengaruh iklim yang ada dan dapat merespon gejala alam dari lingkungan sekitarnya, dan juga tentu saja penghuni dari bangunan dapat merasa lebih nyaman tinggal didalam bangunan itu, dan juga bangunan menjadi bangunan yang menyandang predikat ramah lingkungan.

                 Sebenarnya manusia dari jaman dahulu sudah sadar akan pentingnya arsitektur biologis dalam pembangunan, sebagai contoh dapat kita lihat di bangunan rumah-rumah adat yang ada di setiap daerah indonesia. Bagaimana respon mereka pada bangunan terhadap lingkungan yang mereka hadapi, seperti bentuk atap yg merespon dari iklim lingkungan, bentuk rumah panggung yg merespon dari keadaan lingkungan yg mungkin banyak terdapat hewan buas. namun pada dasarnya mereka hanya mengikuti kebudayaan dari adat suku mereka, meskipun terkadang lingkungan sekitarnya sudah tidak mendukung dengan bentuk rumah adat mereka.

              Di zaman yang serba maju ini tentu kita haruslah berpikir lebih rasional dan merespon keadaan lingkungan seefektif mungkin pada bangunan agar bangunan yang dibangun karena kebutuhan manusia tidak merusak lingkungan tetapi justru memanfaatkan potensi alam yg ada, dengan begitu setidaknya manusia dan alam akan memiliki hubungan yg erat, karena manusia sangatlah membutuhkan alam sebagai tempat tinggal ataupun bertahan hidup, maka apa jadinya jika bangunan yg dibangun untuk memenuhi kebutuhan manusia malah merusak alam atau melawan kehendak alam, itu akan merugikan mereka sendiri karena telah merusak lingkungan tempat mereka tinggal.

Senin, 28 September 2015

#1 ARSITEKTUR & LINGKUNGAN

               


                       Arsitektur & Lingkungan, sebuah kata yang mungkin sudah tidak asing lagi bagi kita yang tengah bergelut dalam dunia arsitektur baik yang sudah bekerja dilapangan maupun yang masih dalam ruang lingkup bangku perkuliahan, kita sebagai orang yang bergelut dalam bidang arsitektur haruslah paham betapa pentingnya mempedulikan lingkungan terlebih dahulu sebelum mulai merancang sebuah bangunan di suatu lingkungan.

 Lalu mengapa seorang arsitek harus peduli dengan lingkungan saat akan merancang?

         Dalam hal pembangunan sangatlah penting untuk memperhatikan aspek-aspek lingkungan terlebih dahulu karena lingkungan adalah tempat dimana mahluk hidup dapat hidup sesuai dengan fungsinya dalam ekosistem. Tanpa kita sadari karya seorang arsitek yang berupa bangunan-bangunan merupakan penyumbang terbesar kerusakan lingkungan, terlebih lagi di era modern ini banyak negara berlomba-lomba membangun gedung pencakar langit dengan mewahnya dan megahnya tanpa mempedulikan aspek-aspek lingkungan sekitanya seperti air, sinar matahari, angin, dan rumah-rumah warga sekitar yang kekurangan air dan sinar matahari yang terhalang oleh gedung-gedung besar.

        Sebagai contoh di Indonesia kita bisa melihat kondisi kota Jakarta saat ini, Dimana banyak para pengusaha-pengusaha kaya yang membangun bangunan mewah hanya untuk memperkaya diri sendiri tanpa memperdulikan lingkungan sekitarnya, dan karena banyaknya pembangunan gedung-gedung besar, lahan dikota Jakarta menjadi semakin sempit, dan banyak dari warga Jakarta yang termasuk golongan bawah lebih memilih tinggal di bantaran sungai ketimbang harus angkat kaki dari kota Jakarta dengan alasan-alasan sepihak, sehingga terciptanya pemukiman kumuh di bantaran sungai kota Jakarta.

         Dengan banyaknya warga yang tinggal di bantaran sungai tentu saja luas sungai semakin lama semakin menyempit dan ditambah sampah yg mereka buang ke sungai tanpa mempedulikan akibatnya membuat sungai mengalami pendangkalan dan debit air pun naik, dan juga sistem Drainase kota Jakarta yang tidak cukup baik di tambah kurangnya daerah resapan air di Ibukota karena pembangunan yang juga menutup daerah-daerah resapan air dengan aspal atau bahkan dengan beton, maka tak heran jika setiap tahunnya kota Jakarta selalu di landa Banjir.
(Pemukiman warga yang tinggal di bantaran kali ciliwung, Jakarta)

Lalu bagaimana solusi untuk mengatasi permasalah seperti di Ibu kota Jakarta?

      Seperti yang sudah kita semua ketahui, permasalahan akibat pembangunan yang tidak mempedulikan lingkungan di kota Jakarta banyak menyebabkan masalah seperti halnya banjir dan pemukiman kumuh di bantaran sungai, seolah-olah permasalahan ini menjadi PR bagi pemerintah yang belum pernah menemui titik terang untuk mengatasinya. Dan juga tidak mungkin jika pemerintah memaksakan menerapkan sistem seperti yang ada di kota negara-negara maju seperti kota Tokyo, Jepang.

     Pemerintah Indonesia terutama di kota Jakarta setidaknya dapat meniru prilaku pemerintah Jepang yang sangat mempedulikan lingkungannya walaupun tidak se efektif yang pemerintah Jepang lakukan.Sebagai contoh adalah proyek Drainase terbesar di dunia yang di bangun di kota Tokyo, Jepang yaitu "Proyek G-Cans" (Shutoken Gaikaku Housui Ro, atau Channel area Discharge Outer Metropolitan Underground) adalah jalur air bawah tanah dan air besar area penyimpanan yang dibangun oleh pemerintah Jepang untuk melindungi Tokyo dari banjir selama musim hujan.

 



Untuk menyerap air hujan, kompleks tersebut dilengkapi dengan 59 turbo pump dan total kapasitas lebih dari 14 ribu tenaga kuda . Tampaknya ini jelas mungkin dirancang untuk banjir paling intens.
        Proyek yang dimulai pada tahun 1992, proyek yang seharga dua-miliar-dolar ini telah selesai pada tahun 2009. Terowongan yang memiliki panjang lebih dari 100 km, tapi mungkin fitur yang paling mengesankan dari sistem drainase adalah tinggi silo yang mencapai 213 kaki dan 83 kaki serta 580 kaki untuk panjang tangki utama yang memiliki berpilar. Dan dikenal sebagai "Temple Underground," yang dibangun untuk mengumpulkan limpahan dari saluran air kota. Sistem drainase humongous dapat memompa lebih dari 200 ton air per detik.
Oleh karena itu, pemerintah kota Jepang memberi marjin fasilitas keselamatan yang ditempatkan sangat besar. Dengan membiarkan semua air laut menguap menjadi awan lalu jatuh menjadi hujan. Sang perancang drainase ini harus mempertimbangkan satu set penyimpanan bawah tanah yang sangat besar untuk ribuan ton air saat curah hujan tinggi datang.


Lalu mengapa sistem drainase seperti itu tidak diterapkan pada Ibukota Jakarta, Mengapa?
   
      Selain karena kurangnya anggaran dana dari pemerintah, Juga karena warga indonesia terutama kota jakarta banyak yg belum sadar akan peduli lingkungan, tentu saja akan sangat tidak efektif jika seorang arsitek sudah berpikir keras merancang bangunan yang mempedulikan lingkungan tetapi justru warga sekitar atau penghuni bangunan tidak peduli dengan lingkungan ,sebagai contoh kecil seperti membuang sampah secara sembarangan, mungkin itu terdengar seperti hal sepele tetapi memiliki dampak buruk bagi lingkungan yang cukup besar.
       Untuk mengatasi masalah yang ada di kota Jakarta menurut saya pribadi setidaknya pemerintah Indonesia haruslah meniru sikap pemerintah Jepang yang sangat mempedulikan lingkungannya. Tidak kalah penting juga harus munculnya kesadaran dari warga sekitar dan juga ketika membangun tidak menutup seluruh daerah resapan air dengan plester seperti trotoar untuk pejalan kaki, tidak perlu menggunakan plester cukup menggunakan bata konblock sehingga air dapat meresap ke tanah.




           Sebenarnya banyak arsitek yang sadar dan paham akan pentingnya aspek-aspek lingkungan terutama di kota Jakarta itu sendiri tetapi mungkin hanya sedikit yang menerapkannya atau mungkin tanpa sadar dan ketidak sengajaan bangunan yang dirancang oleh seorang arsitek memberikan dampak buruk bagi lingkungan sekitarnya baik secara langsung ataupun tidak langsung.
Tentu saja untuk kedepannya akan menjadi tugas kita sebagai generasi penerus bangsa dan para calon arsitek muda untuk memperbaiki keadaan kota Jakarta atau bahkan memajukan pembangunan di Indonesia dengan wawasan lingkungan.
                   




Contoh bangunan yang kurang memperhatikan aspek lingkungan


Walt Disney Concert Hall 




          Walt Disney Concert Hall terletak di 111 South Grand Avenue, Los Angeles, California, Amerika Serikat. Gedung ini dirancang oleh seorang arsitek terkenal Frank Gehry dan memiliki kapasitas sekitar 2.265 orang. Konstruksi gedung konser ini dimulai tahun 1999 dan selesai pada 23 Oktober 2003. Gedung ini merupakan hadiah dari Lillian Disney dimana dia memberikan $50 juta untuk membangun tempat pertunjukan sebagai persembahan atas bakti Walt Disney kepada seni dan juga kepada kota. Permasalahan yang terjadi di gedung ini adalah karena gedung ini permukaannya terbuat dari stainless dan bagian founders room berbentuk cekung mudah memantulkan dan
memfokuskan cahaya matahari. Beberapa masyarakat yang tinggal di apartemen dekat situ mengeluhkan bahwa mereka terkena silau yang dipantulkan dari bagian permukaan gedung yang bentuknya menyerupai parabola. Hal ini juga membuat panas meningkat sehingga warga mengeluhkan karena harga penggunaan AC mereka naik karena dipakai untuk mendinginkan ruangan yang panasnya mencapai 60°C. Kecelakaan lalu lintas juga meningkat akibat silaunya pantulan sinar matahari. Setelah banyak menerima keluhan dan kritik dari masyarakat setempat, pemilik gedung meminta solusi kepada Frank Gehry dan akhirnya permasalahan itu diselesaikan pada tahun 2005, permukaan panel yang silau ditumpulkan dengan pengamplasan sehingga menghilangkan silau yang tidak diinginkan.






Contoh Bangunan Dan Kota Yang Peduli Dengan Aspek Lingkungan

Taman ismail marzuki, Cikini, Jakarta Pusat

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiDbnQpFYwkQWOzvAyxmtLeyMjFvrKtDz6In7t1ALX95rSBs9fLERK6870bxKLxUpAWTuKcT-31qi_HZNbI2lI1erqmBCz1kltoc4A3Ow8-h-k5fmryBop3dcSFbA1nWXKFwxVB-cB3lyI/s1600/Rev+2+b_resize.jpg


banyaknya lingkungan hijau di site bangunan tersebut dan pembuatan taman pada atap sehingga membuat dampak positif untuk mengurangi dampak global warming.

·       Sebagai taman hijau kota.
·       Pembuatan the "Artificial Sungai" dibuat sepanjang sisi barat laut situs untuk membantu mengumpulkan air hujan untuk didaur ulang dan mengganti pagar sebagai batas ramah antara taman dan sekitarnya.



 Wisma Dharmala Sakti (sekarang Intiland Tower)






           Terletak di jalan Sudirman, Jakarta. Meskipun bukan merupakan bangunan bersertifikasi GBCI, namun gedung ini telah menerapkan aspek-aspek arsitektur hijau. Didirikan tahun 1986 oleh arsitek Paul Rudolph. Rudolph terinspirasi dari bentuk atap-atap di Indonesia yang memiliki overstek karena merespon iklim tropisnya sehingga apabila di dalam gedung tidak akan secara langsung diterpa cahaya matahari. Terdapat pula void yang cukup besar sehingga udara sejuk masih terasa di dalanya tanpa kehujanan saat merasakannya. Bahkan di perencanaan awal, bangunan ini sebenarnya tidak perlu menggunakan pendingin ruangan. Namun seiring berjalannya waktu dan efek rumah kaca telah memberi panas yang cukup parah dan tidak menentu, akhirnya bangunan ini menggunakan pendingin ruangan. Namun pada koridor hal tersebut masih tidak diperlukan karena udara sejuk masih dapat masuk. Pencahayaan lampu pada siang hari juga tidak terlalu diperlukan pada koridor karena cahaya matahari masih dapat masuk tanpa pengguna merasa terik maupun kehujanan. Dari keenam aspek arsitektur hijau, sudah diterapkan setidaknya lima aspek pada Intiland Tower ini. Bangunan ini telah berusaha mengoptimalkan energi yang dimiliki alamnya, merespon iklim, merespon kebutuhan pengguna dan keadaan tapaknya, dan adanya aspek yang saling mendukung.





Kota Reykjavik, Islandia




      Islandia adalah negara terhijau di dunia. Kota Reykjavik adalah kota terbesar di islandia dan telah menyatakan keinginannya untuk menjadi kota-kota Eropa terbersih dan telah mengambil langkah yang sangat mengesankan untuk mencapai itu. Saat ini, kota Reykjavik dijalankan sepenuhnya pada sistem go green, termasuk panas bumi dan pembangkit listrik tenaga air, sedangkan sistem transportasi di kota ini seluruhnya menggunakan hidrogen.















Sumber:
http://www.academia.edu/9774768/Arsitek_Harus_Peduli_Lingkungan
http://www.apasih.com/2011/10/10-kota-dengan-tata-kota-terbaik-dan.html
http://kanthiasihgusti.blogspot.co.id/2014/12/pengertian-arsitektur-dan-lingkungan_1.html
http://terbawangin.blogspot.co.id/2013/01/proyek-drainase-terbesar-didunia-berada.html